Mitos Seputar Psikiater, Benar atau Tidak ya?

 

Di zaman now, kita sudah makin sering mendengar tentang ‘kesehatan mental’ dan ‘psikiatri’. Kalimat-kalimat ini sudah bukan barang baru di timeline facebook, twitter, atau instagram kita. Mungkin, Anda mengenal orang (atau mengalami sendiri) yang sudah berobat ke psikiater dan kondisinya menjadi lebih baik.

 

Meski demikian, sebagian besar orang masih belum tahu berobat ke psikiater itu ngapain aja. Tentu masih ada orang yang belum mengenal tentang dunia psikiatri ataupun tentang kesehatan mental. Ketidaktahuan ini kadang tercampur dengan  stigma dan mitos yang beredar di masyarakat. Sebagai contoh, mungkin kamu pernah mendengar tentang…

 

 

 

Mitos #1

“Kalau kamu ke psikiater, artinya kamu sudah gila!”

Fakta:

Apakah hanya orang gila yang berobat ke psikiater? Tidak! Ini adalah kesalahpahaman terbesar yang sudah tertanam begitu dalam di berbagai belahan dunia.

 

Psikiater adalah dokter yang mendalami ilmu tentang kejiwaan manusia. Psikiater (seperti dokter lain) mendiagnosis, menangani, dan mencegah timbulnya penyakit atau gangguan pada pasien. Nah, tentu kita sudah tahu kalau dokter THT secara khusus menangani kasus Telinga-Hidung-Tenggorokan dan neurologi menangani kasus yang berhubungan dengan gangguan saraf. Psikiater menangani gangguan pikiran, perasaan (emosional), dan perilaku.

 

Nah, apa saja gangguan pikiran, perasaan, dan perilaku itu? Banyak!

Psikiater biasanya menangani kasus yang umum ditemui dalam keseharian, seperti depresi, cemas, fobia sosial, gangguan makan, sulit tidur, kesulitan belajar, anak hiperaktif, hingga adiksi game!

Ketika seseorang datang ke psikiatri, itu bukan berarti dia gila, melainkan karena dia mau berjuang untuk memperbaiki kondisi dirinya!

 

 

 

Mitos #2

“Kalau ke psikiater/psikolog itu nanti diajak ngobrol gitu kan ya?

Emangnya bisa sembuh kalau cuma ngobrol doang?”

Fakta:

Pernyataan ini ada benar dan ada kelirunya.

Benar: yak, ke psikiater memang akan diajak ngobrol.

Keliru: dalam sesi terapi, yang terjadi tidak ‘cuma ngobrol doang’ loh! Mereka menggunakan teknik khusus yang disebut psikoterapi.

 

Dalam psikoterapi, seorang psikiater ataupun psikolog yang disebut ‘terapis’ tidak sekedar mengajak ngobrol, memberi konseling, apalagi memberi nasihat. Malahan, dalam satu sesi terapi biasanya klien akan lebih banyak bicara disbanding terapisnya. Seorang terapis akan mengajak klien untuk mengenali dan memahami kondisi yang dialami secara lebih obyektif dan mengajak klien memperbaiki kondisinya sesuai dengan karakter klien.

 

Nah, psikoterapi itu sendiri ada berbagai jenis. Ada yang Namanya psikoterapi psikodinamik, cognitive behaviour therapy (CBT), terapi modifikasi perilaku, hipnoterapi, dan berbagai jenis lainnya, sesuai kebutuhan.

 

 

 

Mitos #3

“Kalau ke psikiater nanti pasti dikasih obat.

Katanya obatnya keras, nanti bisa bikin ngantuk terus kaya orang bengong!”

Fakta:

Sebagai seorang dokter, tentu psikiater terikat dengan sumpah untuk mengutamakan kesehatan pasien dan tidak memperburuk kondisi pasien. Nah, masa sih psikiater akan memberi obat yang bikin pasiennya makin sakit?

 

Ketika psikiater menilai bahwa kliennya membutuhkan tatalaksana yang lebih cepat, tentunya psikiater menawarkan obat dengan tujuan untuk memperbaiki keluhannya. Kadang, ada obat psikiatri yang memiliki efek samping tertentu, seperti mual atau mengantuk berlebih. Efek samping ini dialami oleh beberapa orang dan beratnya bisa bervariasi, tergantung dosis dan respons individu. Banyak juga orang yang tidak mengalami efek samping sama sekali.

 

Nah, itulah mengapa dokter akan terus memonitor dosis dan efek samping obat yang diberikan. Dengan obat yang tepat dan dosis yang sesuai, efek samping itu bisa diminimalkan dan bahkan sampai tidak mengganggu sama sekali.

 

 

 

Mitos #4:

“Kalau sudah minum obat dari psikiater, biasanya jadi ketergantungan.

Nanti selamanya jadi harus minum obat!”

Fakta:

Tidak semua yang berobat ke psikiatri harus minum obat selamanya.

Kondisi pengobatan psikiatri sama seperti penyakit lain. Ada obat yang bisa diminum beberapa hari, beberapa bulan, bahkan harus diminum sampai seterusnya. Penentuan ini tentunya disesuaikan secara individual, tergantung kasus, dan menimbang banyak faktor.

 

Beberapa orang ketika menghentikan pengobatan dari psikiater secara tiba-tiba mungkin merasakan gelisah atau tidak nyaman. Nah, hal ini terjadi bukan karena obatnya, melainkan karena penghentian secara tiba-tiba. Ibaratnya, mobil yang lagi melaju kencang tiba-tiba direm mendadak, tentu saja penumpangnya kaget.

 

Ketika psikiater merasa bahwa pasien sudah mengalami perbaikan, biasanya dokter akan merencanakan penghentian obat. Nah, umumnya penghentian ini dilakukan secara bertahap untuk melihat respons yang dialami pasien. Selain itu, psikiater juga akan merencanakan terapi tanpa obat, termasuk dengan psikoterapi, agar pasien tetap mempertahankan kondisi baiknya walau tanpa obat.

 

 

 

Nah, itulah mitos seputar psikiatri yang mungkin pernah kamu dengar. Setelah ini, kamu jadi tahu bahwa konsultasi ke psikiater itu bukan lagi hal yang memalukan, melainkan hal wajar dan umum dilakukan oleh orang yang membutuhkan.

 

Salam sehat jiwa!

 

(dr Andreas Kurniawan, SpKJ)

 

 

Page view
blog counter