Stres Akibat Kerja:

Kapan suatu pekerjaan menjadi 'tidak sehat'?

 

Dok, saya lagi stres di pekerjaan. Kayanya tiap hari masuk kerja itu udah kaya masuk ke zona perang. Orang-orangnya nggak ramah, workload-nya banyak, dan pastinya bisa dimarahin tiba-tiba, bahkan kalaupun bukan saya yang salah!

Rasanya pengen berhenti, tapi saya butuh banget kerjaan ini...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Stres di Pekerjaan? Bukannya Itu Biasa?

Betul, stres di tempat kerja adalah hal yang biasa. Stres tidak selalu merupakan hal buruk loh. Untuk membedakannya, mari kita bayangkan ‘stres’ seolah sebagai dua saudara kembar, yaitu eustres dan distres

 

Eustres adalah stres yang baik, yang memotivasi seseorang untuk mempersiapkan diri dan kompetitif. Contohnya adalah seorang suami yang menunggu istri lahiran atau seorang keryawan yang deg-degan sebelum presentasi. Akibat stres tersebut, mereka menjadi lebih waspada dan mempersiapkan diri dengan baik. Setelah sumber stresnya terlewati, maka kecemasannya akan reda. 

Di sisi lain, ada yang namanya distres, yaitu stres yang menimbulkan penderitaan. Distres ini terjadi apabila tingkat stres sudah demikian tinggi yang mengakibatkan seseorang tidak fokus, produktivitas menurun, bahkan sampai gagal menyelesaikan tugasnya. 

 

Eustres dan distres ini sesuai dengan kurva Yerkes-Dodson yang digambarkan di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sederhananya: stres rendah hingga sedang (good stress) bagus untuk meningkatkan performa. Bahkan performa kerja maksimal hanya bisa dicapai bila ada stres yang optimal pula. Stres yang lebih daripada yang diperlukan (bad stress) akan menurunkan performa. 

 

Sayangnya, tidak ada  alat ukur stres di tempat kerja, sehingga kadang kita tidak tahu apakah tingkat stres ini wajar atau di luar batas. Bahayanya, stres berlebihan di tempat kerja bukan hanya dapat menyebabkan gangguan fisik dan emosional, tapi juga bisa menurunkan produktivitas kerja. Bahkan, tak jarang stres akibat kerja ini terbawa ke rumah dan menjadi sumber konflik dengan keluarga. 

 

Sebanyak Apa Kejadian Stres di Tempat Kerja?

Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 71% pekerja (hampir tiga dari empat orang!) menganggap bahwa tempat kerja merupakan sumber stres yang besar. Lebih lanjut lagi, 1 dari 10 orang sampai mengalami penurunan produktivitas yang nyata. Bahayanya, penurunan produktivitas ini bisa berakibat hilangnya pekerjaan.

 

Ada beberapa penyebab timbulnya stres di tempat kerja.

Faktor pekerjaan:

  • jam kerja yang panjang
  • deadline yang ketat
  • fasilitas kerja yang kurang mendukung

Faktor relasi:

  • rekan kerja yang tidak bersahabat
  • manajemen atau atasan yang kurang baik

 

Selain mengalami hal-hal negatif, kadang seseorang juga mengalami stres di tempat kerja karena tidak terjadinya hal positif. Contoh penyebab hal ini adalah tidak adanya perkembangan karir dan tidak adanya apresiasi dari atasan di tempat kerja.

 

 

Bagaimana Gejala Stres Yang Berlebihan di Tempat Kerja?

Pada dasarnya, ketika Anda merasa terbebani dan merasakan ada perbedaan dalam pola kerja maupun aktivitas lain, mungkin Anda sudah mengalami stres berlebihan akibat kerja. 

 

Secara umum, berikut gejala yang mungkin dialami:

Gejala fisik:

  • mudah lelah
  • otot tegang dan sakit kepala
  • sulit tidur
  • tekanan darah naik
  • masalah kulit
  • gangguan pencernaan (maag)

Gejala psikis:

  • perasaan sedih atau kesepian yang bisa menjadi depresi
  • cemas
  • rasa minder atau pesimis
  • sulit konsentrasi

Gejala perilaku:

  • mudah marah dan tidak sabar
  • penurunan performa kerja
  • mengalami dengan rekan kerja
  • hilang minat untuk berkembang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin Saya Mengalami Stres Akibat Kerja.

Apa Yang Harus Dilakukan?

1. Sadari!

Langkah paling pertama adalah tentunya menyadari dan mengakui bahwa kita mengalami stres. Lebih baik bila kita bisa menyadari stres yang dialami secara spesifik, misalnya “saya merasa terbebani ketika masih harus membawa pekerjaan pulang di luar jam kerja” dibandingkan hanya sekedar “kerja saya terlalu banyak”.

Tanpa menyadari penyebabnya, kita akan sulit menanganinya kan?

 

2. Bercerita!

Beberapa orang mungkin beruntung bila memiliki manajer atau atasan yang bisa diajak bercerita tentang stres di dalam pekerjaan. Sayangnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa 57% pekerja menganggap atasannya tidak memberikan dukungan atau solusi atas stres yang dialami. Sebagian besar pekerja juga merasa enggan untuk bercerita ke atasannya.

Dalam kondisi demikian, carilah teman kerja yang bisa dipercaya untuk bercerita. Jangan lupa, ketika gantian teman yang bercerita, maka Anda juga sebaiknya belajar jadi pendengar yang baik.

Relasi perorangan akan lebih baik dibandingkan Anda menulis keluhan di media sosial!

 

3. Olahraga!

Banyak orang yang cenderung tidak berolahraga dengan alasan sudah terlalu sibuk bekerja. Hal ini sangat disayangkan, karena penelitian menunjukkan bahwa olahraga sangat membantu meningkatkan mood, energi, dan fokus. Memang membuat suatu kebiasaan baru bukanlah hal yang mudah. Maka, sebaiknya mulai dengan hal kecil (naik tangga dibandingkan lift, bisa kan?).

It’s about making time, not having time!

 

4. Hilangkan kebiasaan buruk!

Terlalu banyak ngemil saat stres?

Menunda pekerjaan?

Bangun terlambat sehingga terburu-buru?

Terlalu perfeksionis dalam pekerjaan?

Pikiran negatif terhadap klien atau rekan kerja?

 

Beberapa pola tanpa kita sadari membuat kita ‘mempertahankan’ kondisi stres akibat kerja. Mengubah kebiasaan jelas bukan hal yang mudah karena yang namanya ‘kebiasaan’ terjadi secara otomatis tanpa disadari. Beberapa orang dapat terbantu dalam mengubah kebiasaannya melalui sesi terapi perilaku dengan psikiater atau psikolog.

Jangan buat kebiasaan jadi alasan!

 

5. Konsultasi dengan tenaga ahli

Kesejahteraan pikiran dan perasaan seseorang bukan lagi kebutuhan tersier, melainkan sudah menjadi hak semua orang. Bila Anda merasa terbebani dengan stres akibat kerja dan tidak tahu harus berbuat apa, ada baiknya berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog. 

 

Datang ke tenaga ahli bukan berarti akan langsung diberikan obat penurun cemas atau antidepresan loh… Ada banyak teknik penanganan kecemasan seperti relaksasi, terapi modifikasi perilaku, hipnoterapi, hingga terapi neurofeedback untuk meningkatkan konsentrasi atau menurunkan kecemasan. 

 

Teknik penanganan akan disesuaikan secara individual, sehingga teknik yang bermanfaat pada satu klien belum tentu sukses di klien lain. Dalam beberapa kondisi, mungkin diperlukan obat dengan tujuan memperbaiki kondisi dengan cepat. Apapun terapi yang dilakukan, tujuannya sama yaitu mengembalikan individu ke kondisi produktif dan bisa menikmati pekerjaannya.

 

Jika Anda ingin konsultasi lebih lanjut seputar kondisi stres akibat kerja dan penanganannya, hubungi kami di Smart Mind Center RS Gading Pluit.

 

(dr Andreas Kurniawan, SpKJ)

 

 

 

 

Page view
blog counter
gallery/yerkes dodson law
https://images.unsplash.com/photo-1516534775068-ba3e7458af70?ixlib=rb-1.2
https://images.unsplash.com/photo-1513530534585-c7b1394c6d51?ixlib=rb-1.2