Apakah Saya Mengalami Depresi?

 

Dok, tolong! Kakak saya sudah dua minggu ini tidak keluar kamar... Makannya juga seadanya saja. Saya melihat dia mulai berubah sejak dia diberhentikan dari perusahaan startup tempat dia bekerja. Sebenarnya saya bingung Dok, dia orangnya pintar, mudah bergaul, dan harusnya gampang mendapat kerja lagi. Tapi kenapa dia tampaknya hilang semangat ya?

 

Oh iya, dulu dia juga pernah mengalami hal serupa... Tapi waktu itu kami nggak tau penyebabnya apa. Tahu-tahu dia kelihatan lesu dan nggak mau ngapa-ngapain. Jangan-jangan kakak saya depresi, Dok?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa itu Depresi?

Depresi adalah suatu perasaan. Hampir setiap orang pasti pernah mengalami perasaan depresi! Ketika kamu putus cinta, ketika kehilangan orang atau anggota keluarga yang disayang, ketika diberhentikan dari pekerjaan, bahkan ketika tim bola kesayangan kamu kalah di pertandingan penting! Nah, karena depresi ini berupa perasaan, maka depresi akan datang dan pergi. Makanya, setelah beberapa waktu, kita akan cenderung merasa baikan. Ibaratnya, time heals. Waktu menyembuhkan.

 

Sekarang, ada beda antara perasaan depresi dan gangguan depresi! Ketika depresi itu menjadi menetap, membuat penderitaan yang mendalam, mengganggu aktivitas hidup, sampai menimbulkan masalah kesehatan, maka mungkin seseorang mengalami gangguan depresi. Kata kuncinya adalah kondisi ini disebut gangguan ketika sudah menimbulkan gangguan dalam aktivitas.

 

Tapi, hal yang kita bahas di atas kan cenderung subyektif.

Putus cinta tiap orang kan rasanya beda?

Apalagi kalau mau ngomong tentang gangguan dalam aktivitas, itu kan subyektif banget!

 

Betul, banyak orang yang mungkin melakukan self-diagnosis tentang kondisi depresi dirinya. Padahal, ada suatu standar bagi psikiater di seluruh dunia untuk mendiagnosis depresi ini. Psikiater mungkin menggunakan kriteria diagnosis dari PPDGJ atau DSM-5. Nah, untuk di artikel ini kita akan bahas sedikit tentang kriteria diagnosis menurut DSM-5

 

 

 

Kapan Seseorang Dikatakan Mengalami Gangguan Depresi?

Menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), suatu perasaan sedih saja tidak bisa otomatis disebut gangguan depresi. orang dengan gangguan depresi mengalami setidaknya lima dari gejala berikut:

  1. Perasaan sedih yang berlangsung hampir sepanjang hari, hampir tiap hari.

  2. Hilang minat terhadap hal-hal yang biasanya membuat senang.

  3. Perubahan nafsu makan dan berat badan yang signifikan.

  4. Gerakan dan pikiran menjadi lebih lambat, biasanya disadari oleh orang lain.

  5. Rasa lelah dan hilang energi hampir tiap hari.

  6. Rasa tidak berharga atau rasa bersalah hampir tiap hari.

  7. Hilangnya kemampuan untuk berpikir, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan, hampir tiap hari.

  8. Pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri

Untuk kriteria di atas, gejala harus bertahan selama setidaknya dua minggu. Salah satu gejalanya harus meliputi poin nomor 1 atau nomor 2.

 

Jadi, kondisi gangguan depresi itu bukan sekedar sedih yang super berat loh. Bisa saja seseorang mengalami sedih yang sangat berat, tapi tetap bisa beraktivitas sehari-hari walaupun dengan usaha berat. Hal ini mungkin dialami pada seseorang yang baru kehilangan anggota keluarganya. Di sisi lain, ada orang yang mungkin mengalami kesedihan yang menurut dirinya 'biasa' tapi menyebabkan penderitaan bagi dirinya karena sampai menimbulkan masalah dalam kerja dan relasi!

 

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 21.8% orang Indonesia menunjukkan gejala depresi, dengan angka tertinggi pada remaja dan dewasa muda. Artinya, sekitar satu dari lima orang mungkin mengalami gejala depresi sedang hingga berat yang berpotensi menyebabkan gangguan dan penderitaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa Penyebab Depresi?

Ini adalah salah satu hal yang paling sering ditanyakan oleh pasien. Sayangnya, tidak ada jawaban pasti untuk hal ini. Walau depresi merupakan suatu kondisi penyakit klinis, tapi tidak ada 'biang kerok penyebab' seperti halnya penyakit infeksi (demam berdarah akibat virus yang ditularkan nyamuk aedes aegepty) atau penyakit stroke (terjadi akibat gangguan pembuluh darah di otak). Jadi, tidak benar ketika kita berpikir bahwa seseorang mengalami depresi karena tekanan hidup yang berat. Tekanan hidup bisa menjadi faktor yang memicu depresi, tapi bukan penyebab!

 

Penelitian saat ini menyatakan bahwa gangguan depresi adalah kondisi kompleks yang melibatkan aspek biologis, psikologis, dan sosial (bio-psiko-sosial).

 

Aspek biologis depresi menyatakan bahwa depresi terjadi akibat adanya ketidakseimbangan neurotransmitter serotonin (suatu zat kimia tertentu di otak). Pada orang dengan depresi, diduga rendahnya kadar serotonin menyebabkan gejala-gejala depresi. Ketika psikiater memberikan obat antidepresan untuk mengembalikan serotonin ke kadar normal, pasien dengan gejala depresi menunjukkan perbaikan nyata. Selain itu, aspek biologis juga menyatakan bahwa faktor genetik atau turunan memegang peranan kuat. 

 

Aspek psikologis menyatakan bahwa kepribadian seseorang dan cara seseorang menghadapi masalah memegang peranan penting dalam perburukan atau perbaikan depresi. Mungkin kita kenal ada orang yang tetap bisa ceria dan memandang segala sesuatu dari sisi positif walaupun hidupnya sedang dilanda musibah, dan sebaliknya ada orang yang mengeluh walaupun hidupnya dianggap nyaman oleh sebagian besar orang. Seorang psikiater atau psikolog klinis bisa melakukan psikoterapi untuk membuat kliennya menjadi lebih menyadari pola yang terjadi dalam kesehariannya. 

 

Aspek sosial menyatakan bahwa depresi bisa dipicu karena adanya stresor sosial. Jadi, ini adalah salah satu pemicu, bukan satu-satunya penyebab! Dalam suatu sesi terapi, terapis akan mengajak klien untuk memahami secara jelas stresor yang mungkin terjadi di sekelilingnya. Dengan menyadari hal tersebut, klien akan lebih mudah mengatasinya. Sebagai contoh, cukup sering klien datang dengan keluhan stres di tempat kerja. Terapis mungkin mengajak melihat bahwa stresor yang sebenarnya terjadi bukan sekedar 'masalah kerja' melainkan 'kurang dihargai oleh rekan kerja dan atasan meskipun sudah menunjukkan performa yang baik'.

 

Terapi depresi pun disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Psikiater mungkin mengkombinasikan psikoterapi dan antidepresan untuk mempercepat efek terapi. Meski demikian, terapi depresi biasanya dibuat unik per individu.

 

 

Jika Anda ingin konsultasi lebih lanjut seputar kondisi depresi dan penanganannya, hubungi kami di Smart Mind Center RS Gading Pluit.

 

(dr Andreas Kurniawan, SpKJ)

 

 

 

 

Page view
blog counter
https://images.pexels.com/photos/278312/pexels-photo-278312
https://images.pexels.com/photos/236151/pexels-photo-236151