Apa itu Panic Attack?

 

Dok, saya datang ke psikiater atas saran dari dokter di IGD. Jadi, kemarin malam saya sempat sesak berat dan berdebar kencang. Saya langsung ke IGD, kan saya takut sakit jantung ya... Setelah pemeriksaan di sana, sudah EKG, echo, eh ternyata semua baik-baik saja. Katanya, rasa sesak saya bukan dari jantung, tapi dari psikis. Jadinya saya disuruh ke sini.

 

Kata dokter IGD, saya mengalami panic attack. Memangnya orang panik perlu sampai ke psikiater ya, Dok?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Panic attack, bukan panik biasa!

Sebagai orang yang menggunakan bahasa Indonesia, tentu kita tidak heran dengan istilah panik.

"Aduh, panik banget nih gue, tugas belum kelar mana besok harus dikumpul!

"Si Bambang tadi panik tuh, kirain kuncinya hilang... eh ternyata di kantongnya"

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, panik memiliki arti "bingung, gugup, atau takut dengan mendadak (sehingga tidak dapat berpikir dengan tenang)". Jadi, ketika kita menggunakan kata panik dalam bahasa Indonesia, kita bicara dalam ranah perasaan dan pikiran.

 

Nah, dalam istilah kedokteran, panik memiliki arti yang berbeda.

Menurut istilah kedokteran, panik adalah perasaan takut atau ketidaknyamanan yang sangat kuat dan terjadi tiba-tiba yang berlangsung beberapa menit, tapi biasanya akan mereda dalam waktu kurang dari 10 menit. Kondisi ini disebut sebagai 'serangan panik'.

Nah, selama terjadinya serangan itu, bisa ditemukan beberapa gejala berikut ini:

  • Rasa berdebar-debar atau jantung terasa berdetak kencang
  • Berkeringat
  • Gemetar
  • Rasa sesak atau sulit bernafas
  • Rasa tercekik
  • Nyeri dada
  • Mual atau nyeri perut
  • Merasa pusing, sempoyongan, atau pingsan
  • Sensasi menggigil atau kepanasan
  • Rasa baal atau kesemutan
  • Merasa seperti kehilangan kendali diri, seperti terlepas dari realita, atau terpisah dari tubuh
  • Rasa takut akan mati atau akan "menjadi gila"

 

Bagi orang yang pernah merasakan serangan panik, kondisi ini sangat menakutkan dan sungguh nyata. Bahkan, ketika diperiksa oleh dokter, akan sungguh ditemukan tanda-tanda jantung yang berdetak cepat, tanda-tanda sesak, atau berkeringat. Jadi, kondisi panik dalam kedokteran bukan hanya sekedar perasaan saja tapi sudah melibatkan kondisi fisik.

 

Salah satu ciri khas yang juga dialami oleh orang yang pernah mengalami serangan panik adalah bahwa mereka amat-sangat ketakutan bahwa kondisi serangan itu akan kambuh lagi. Akhirnya, walaupun sedang tidak mengalami serangan panik, hari-hari mereka diisi dengan ketakutan "kapan ya serangan saya akan kambuh?"

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa bedanya panik dengan cemas biasa?

Di artikel sebelumnya, sudah pernah dibahas sekilas tentang perasaan cemas atau anxiety disorder. Orang yang mengalami serangan panik mungkin juga memiliki gejala cemas. Orang dengan cemas yang berat mungkin sesekali mengalami serangan panik. Untuk memudahkan, yang membedakan keduanya adalah durasi dan kekuatan dari cemas tersebut. 

 

Pada serangan panik atau panic attack, rasa cemas yang muncul terjadi sangat cepat dan sangat tinggi, tapi segera mereda lagi. Ini bisa dianalogikan dengan suara ledakan petasan atau kembang api, misalnya. Ledakan itu terjadi tiba-tiba, sangat cepat, dan sangat kuat. Setelah ledakan yang banyak, maka akan mereda sendiri. 

 

Pada gangguan cemas atau anxiety disorder, rasa cemas yang muncul berlangsung lama, bisa sampai berjam-jam, hingga berhari-hari, atau bahkan berbulan-bulan. Meski demikian, rasa cemas itu jarang yang bersifat sangat tinggi seperti pada serangan panik. Sebagai perbandingan dengan suara, bayangkan gangguan cemas ini seperti suara jalan raya yang berisik. Ada suara klakson, ada suara mesin, suara orang berbicara, dan lainnya. Jenis suara tersebut jarang sampai membuat kaget, tapi jelas mengganggu.

 

Dalam kenyataannya, mungkin saja keduanya terjadi bersamaan. Mungkin saja seorang dengan gangguan cemas yang merasa tidak tenang sepanjang hari, tiba-tiba mengalami serangan panik ketika sedang berada di tengah jalan. Serangan panik ini kadang sulit ditebak kapan akan muncul. Serangan ini bisa terjadi ketika seseorang sedang cemas berlebih (misalnya, anak sekolah yang sedang menjalani ujian), tapi bisa juga terjadi dalam kondisi yang tenang (misalnya, seorang karyawan yang sedang menyetir mobil di jalan yang kosong).

 


 

Apakah mungkin saya mengalami gangguan panik?

Ketika seseorang mengalami serangan panik yang berulang dan sering, kondisinya berkembang menjadi gangguan panik. Orang tersebut mungkin jadi sangat takut untuk beraktivitas, ke luar rumah, atau mengunjungi tempat ramai karena adanya kekhawatiran bahwa akan terjadi 'serangan'. Akibatnya, mungkin terjadi gangguan dalam fungsi sehari-hari. Dalam kondisi ini, sebaiknya orang tersebut berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

 

Sebagai prinsip umum, karena serangan panik akan selalu melibatkan adanya keluhan fisik (keluhan di daerah jantung, paru, leher, atau lambung), maka psikolog atau psikiater tentu akan menyarankan untuk menjalani pemeriksaan fisik terlebih dahulu dengan dokter terkait, misalnya dokter jantung, paru, THT, atau dokter penyakit dalam. Setelah hasil pemeriksaan berhasil menyingkirkan kemungkinan adanya masalah organik, maka baru penilaian untuk kondisi psikis bisa dilakukan dengan lebih yakin. Untuk menegakkan diagnosis tersebut, tentu perlu melalui wawancara yang terstruktur oleh psikiater atau psikolog klinis.

 

Yang menjadi hambatan bagi seseorang ketika mengalami serangan panik adalah rasa ragu untuk berkonsultasi dengan psikiater. Beberapa orang dengan serangan panik menganggap bahwa serangannya "hanya sebatas pikiran saja" atau bahkan "saya terlalu lebay". Padahal, penelitian menunjukkan angka gangguan panik dialami oleh 2-6% dari populasi umum, sehingga ini adalah sesuatu yang cukup sering ditemui di praktik dokter. Meskipun gangguan panik bisa dialami oleh siapapun, kondisi ini lebih sering ditemukan pada kelompok usia 18 hingga 45 tahun, dengan serangan pertama kali rata-rata dialami diusia 24 tahun.

 

Pada kondisi tertentu, angka kejadian serangan panik meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami masalah jantung, asma, migrain, dan epilepsi memiliki angka kecenderungan serangan panik yang lebih tinggi. Sebaliknya juga, pada orang yang sudah mengalami penyakit jantung koroner, serangan panik bisa membuat iskemia atau kekurangan oksigen sehingga menyebabkan serangan jantung berulang dan bahkan kematian mendadak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana mengatasi gangguan panik?

Ketika seorang pasien dengan gangguan panik datang konsultasi ke psikiater atau psikolog klinis, maka akan dilakukan pencarian pola terjadinya serangan. Kapan itu terjadi? Di mana? Saat itu sedang ada siapa? Apa yang dilakukan? Berapa lama? Semua data ini bermanfaat untuk merancang terapi yang akan dilakukan.

 

Terapi utama dari gangguan panik adalah dengan psikoterapi, terutama untuk melatih relaksasi dan mengenali ketika sedang terjadi awal dari sebuah serangan panik. Semakin awal tanda-tanda awal serangan berhasil dideteksi, semakin besar kemungkinan untuk mencegahnya menjadi sebuah serangan yang berat. Terapi ini bermanfaat karena orang yang sudah mengalami serangan berulang menjadi mudah sekali untuk takut bila akan terjadi serangan lagi. Hal ini membuat mereka jadi tidak mengambil berbagai kesempatan dalam hidup karena rasa takut yang demikian kuat.

 

Psikiater juga mungkin akan memberikan obat golongan benzodiazepine untuk mengurangi cemas, dengan tujuan untuk membantu mengurangi kecemasan dan mencegah terjadinya kekambuhan. Pemberian obat ini diharapkan hanya sementara, sambil pasien mempelajari teknik relaksasi atau cognitive behavioral therapy (CBT) yang bisa dilakukan untuk meredakan serangan. Selama digunakan sesuai anjuran dan dosis yang ditentukan, pemberian obat tersebut tidak menimbulkan ketergantungan.

 

Kondisi gangguan panik adalah kondisi yang sangat mengerikan bila Anda pernah mengalaminya. Pasien terus dihantui dengan pikiran "kapan saya akan mengalami serangan lagi". Jika Anda ingin konsultasi tentang serangan panik dan pencegahannya, hubungi kami di Smart Mind Center RS Gading Pluit.

 

(dr Andreas Kurniawan, SpKJ)

 

 

Page view
blog counter
https://images.unsplash.com/photo-1435575709442-063fe08e935f?ixlib=rb-1.2
https://images.unsplash.com/photo-1494005155262-218c543aafe3?ixlib=rb-1.2
https://images.unsplash.com/photo-1520206319821-0496cfdeb31e?ixlib=rb-1.2