Aduh, Anak Saya kok Sulit Belajar?

 

Bu, saya bingung menghadapi anak saya. Saat ini usianya sudah masuk SD. Selama ini tidak ada masalah di rumah, tapi saya baru saja dapat kabar dari gurunya bahwa dia mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

 

Saya bingung maksudnya bagaimana. Apalagi saya lihat dia ini anaknya cukup pintar. Pakai HP saya saja lancar banget. Nah, saya jadi khawatir nanti anak saya nilainya jadi jelek dan tidak bisa mengikuti pelajaran. Saya harus bagaimana?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa itu kesulitan belajar pada anak?

Sebagai orangtua, tentunya kita ingin anak kita bisa mengikuti pelajaran dan berkembang sesuai usianya. Kalau bisa mendapat nilai yang bagus, tentunya kita lebih bangga lagi! Sayangnya, beberapa anak mengalami kesulitan dalam proses belajar. Kalau terjadi seperti ini, jangan langsung menganggap anak kita malas atau bodoh. Karena, bisa jadi anak kita mengalami kondisi yang disebut sebagai kesulitan belajar (learning difficulties).

 

Perlu dipahami oleh orangtua bahwa 'kesulitan belajar' pada anak bukan hanya berupa satu kondisi, melainkan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, kesulitan belajar yang cukup sering ditemui psikolog di klinik adalah akibat ADHD (gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif), ketidaksiapan sekolah (school readiness), hingga gangguan belajar spesifik seperti disleksia dan diskalkulia. Tiap kondisi gangguan belajar yang berbeda tentu memerlukan penanganan yang berbeda.

 

 

Jadi, kesulitan belajar adalah suatu kondisi adanya masalah dalam kemampuan otak seorang anak untuk menerima, mengolah, hingga menyimpan suatu informasi (pelajaran) sehingga membuat anak terhambat dalam proses akademiknya. Sebagai orangtua, penting diingat bahwa ketika kita bisa mengenali dan melakukan intervensi dini pada kesulitan belajar anak, maka anak bisa menunjukkan potensi optimalnya. 

 

 

 

 

Bagaimana ciri anak dengan kesulitan belajar?

Hal yang perlu diingat adalah bahwa nilai anak di sekolah bukanlah satu-satunya indikator bahwa anak mengalami kesulitan belajar. Kondisi kesulitan belajar bisa dideteksi lebih awal dengan mengenali bagaimana otak anak berkembang dan menerima informasi.

 

Otak seorang anak berkembang pesat di tahun-tahun awal kehidupan. Selama tujuh atau delapan tahun pertama, otak anak mengalami perkembangan paling pesat. Dengan demikian, pada tahun inilah orangtua bisa mendeteksi ketika anaknya sudah mulai mengalami kesulitan belajar. Ketika membandingkan dengan teman-teman sebaya, misalnya, orangtua mungkin melihat bahwa anaknya kurang optimal atau tertinggal dalam proses tumbuh kembang. 

 

Beberapa kondisi yang mungkin diperhatikan orangtua pada anak dengan kesulitan belajar adalah:

  • Susah untuk fokus atau duduk tenang ketika bermain
  • Susah mengikuti instruksi atau perintah
  • Susah untuk membaca atau menulis
  • Susah untuk melakukan penghitungan sederhana sesuai usianya
  • Susah memahami konsep waktu (kemarin, nanti, pagi, siang, dst)

 

Tentu saja tiap anak memiliki tahapan dan waktu yang berbeda untuk membaca, menulis, atau berhitung. Meski demikian, orangtua bisa membandingkan dengan saudara atau teman sebayanya. Apabila ada kecurigaan anak mengalami kesulitan belajar, ada baiknya berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti psikolog.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

Apa contoh kesulitan belajar pada anak?

Berikut adalah contoh kesulitan belajar yang sering ditemui di klinik:

ADHD (attention deficit and hyperactivity disorder):

Sebuah kondisi anak yang hiperaktif berlebih dan kesulitan dalam fokus atau mempertahankan perhatian, sehingga mengganggu proses belajar di sekolah.

 

Ketidaksiapan sekolah:

Secara umum, ini adalah kondisi karena tumbuh kembang anak belum sempurna sesuai usianya, sehingga mengalami masalah dalam beradaptasi. Masalah adaptasi ini bukan hanya dalam hal kemampuan belajar, melainkan juga secara kemampuan bergerak (motorik) hingga kemampuan berteman (sosial)

 

Masalah berbahasa:

Kesulitan belajar pada anak juga bisa terjadi akibat anak yang terlambat bicara, tidak mampu memahami kata, atau bahkan mutisme (menolak berbicara sama sekali)

 

Gangguan belajar spesifik, seperti:

Disleksia:

Kesulitan belajar berupa ketidakmampuan anak untuk memproses huruf dan kata. Akiabtnya, anak jadi sulit untuk membaca, menulis, dan mengeja. Meski demikian, kemampuan berbicara biasanya tetap baik, walaupun relatif sulit untuk menerima kata-kata baru.

 

Diskalkulia:

Kesulitan belajar berupa berkurangnya kemampuan anak untuk mengenali angka dan berhitung. Anak dengan diskalkulia akan kesulitan untuk melakukan perhitungan yang sederhana atau mengingat rangkaian angka.

 

Disgrafia:

Kesulitan belajar berupa ketidakmampuan untuk menulis. Anak dengan kondisi ini kesulitan untuk memegang alat tulis, walaupun mungkin tidak mengalami kesulitan dalam memegang benda lain. Akibatnya, anak mungkin tampak kesulitan dalam proses menulis atau menggambar, yang merupakan skill yang harus dikuasai di sekolah. 

 

 

 

Apa yang harus dilakukan pada anak dengan kesulitan belajar?

Memperbaiki pola belajar anak adalah hal yang mudah sekaligus sulit dilakukan.

Hal ini disebut mudah karena dengan perkembangan pengetahuan saat ini, hampir semua kondisi kesulitan belajar bisa diatasi. Di sisi lain, kondisi ini sulit karena perlu deteksi dini (penilaian tumbuh kembang anak oleh psikolog) dan pembuatan program penanganannya. Untuk terapi anak dengan masalah dalam berbahasa, misalnya, mungkin melibatkan terapis wicara. Untuk kondisi lain, mungkin memerlukan terapis okupasi. 

 

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua sebelum berkonsultasi dengan tenaga ahli antara lain:

- mencoba memahami berapa lama anak bisa fokus

- eksplorasi cara belajar yang tidak membosankan

- menyiapkan lokasi belajar yang optimal, misalnya rapi, tidak bising, serta tidak banyak distraksi

- memastikan nutrisi yang baik pada anak, termasuk cairan yang cukup

- memberikan hadiah atau reward sederhana setiap anak mencapai target belajarnya, misalnya dengan memberi waktu bermain

 

Dan, yang tak kalah penting adalah orangtua perlu menjadi role model yang baik. Apabila orangtua terus mengatakan bahwa anak perlu membaca dan belajar tapi orangtua tidak mencontohkan bagaimana membaca yang baik (dalam beberapa kondisi, malah mungkin bermain handphone ketika anak sedang belajar) maka anak pun akan sulit mempertahankan perilaku membaca itu.

 

 

Jika Anda khawatir anak Anda mengalami kondisi kesulitan belajar, bawalah untuk berkonsultasi ke psikolog.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi kami di Smart Mind Center RS Gading Pluit.

 

(Christina Tedja, M.Psi / dr Andreas Kurniawan, SpKJ)

 

 

Page view
blog counter
https://images.pexels.com/photos/256548/pexels-photo-256548
https://images.unsplash.com/photo-1549737221-bef65e2604a6?ixlib=rb-1.2